Monday, July 28, 2014
Breaking News

Timuran, Abrasi Cerbung Kembali Mengganas

Ketinggian gelombang mencapai dua meter sehingga menerabas masuk melewati batu pemecah gelombang yang sudah terpasang. (Foto:AFTA)

Ketinggian gelombang mencapai dua meter sehingga menerabas masuk melewati batu pemecah gelombang yang sudah terpasang. (Foto:AFTA)

SARANG, MataAirRadio.net - Abrasi dilaporkan kembali mengganas menerjang Dusun Cerbung Desa Temperak Kecamatan Sarang selama sepekan terakhir. Ketinggian gelombang mencapai dua meter sehingga menerabas masuk melewati batu pemecah gelombang yang sudah terpasang.

Kepala Dusun Cerbung, Muhadi kepada reporter MataAir Radio, Selasa (30/4) mengatakan, sebenarnya gelombang tinggi sudah terjadi sekitar satu bulan lalu. Namun, intensitasnya menjadi sering dan cenderung mengganas dalam sepekan belakangan.

Muhadi menyebutkan, rendahnya ketinggian “breakwater” atau tanggul batu penahan gelombang, terutama untuk wilayah Cerbung bagian timur membuat gelombang masih bisa melewatinya.

Atas kembali mengganasnya ombak dan abrasi tersebut, sejumlah warga Dusun Cerbung, terutama yang tinggal bersebelahan dengan pantai mengaku resah dan khawatir.

Muhadi berharap, Pemerintah Kabupaten Rembang menyiapkan langkah pencegahan adalah agar gelombang tinggi tidak berdampak pada hancurnya rumah-rumah warga setempat.

Seorang warga setempat, Narto mengatakan, gelombang tinggi yang saat ini melanda Cerbung, disebabkan oleh berlangsungnya musim timuran.

Seperti saat abrasi tahun lalu, gelombang juga kembali masuk ke permukiman warga. Kondisi tersebut membuat warga diliputi rasa cemas, khawatir abrasi akan kembali menghajar dusun itu.

Sebagaimana Muhadi, Narto juga menyebut ketinggian “breakwater” atau tanggul batu pemecah gelombang untuk wilayah bagian timur dusun itu kurang ideal. Saat ini, menurutnya, hanya wilayah Cerbung bagian barat yang relatif aman dari ancaman gelombang.

Selama ini, Dusun Cerbung Desa Temperak memang merupakan wilayah langanan abrasi. Pada awal tahun lalu, abrasi mengganas dan merusak lebih dari 15 rumah.

Bahkan, beberapa di antaranya ada yang belum dibangun oleh pemiliknya lantaran ketiadaan bantuan dari pemerintah, sementara mereka sendiri tidak memiliki cukup dana untuk membangunnya kembali. (Ilyas Almustofa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>