Monday, July 28, 2014
Breaking News

Petani Direpotkan Gulma Tanaman Padi

Ilustrasi

Ilustrasi

SUMBER – MataAirRadio.net, Sejumlah petani di Kecamatan Sumber mengeluhkan menjamurnya gulma atau rumput pengganggu tanaman yang cenderung sulit dikendalikan sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman padi mereka.

Sumadi, seorang petani di Dusun Gesik Desa Tlogotunggal Kecamatan Sumber kepada reporter MataAir Radio, Jumat (14/12) mengatakan, kehadiran gulma itu merepotkan.

Sebab, tidak hanya pertumbuhan tanaman padi mereka saja yang terganggu, ongkos pemeliharaan tanaman juga menjadi membengkak lantaran petani harus menyiangi tanaman padi dari rumput.

Parkun, petani lainnya asal Desa Jadi Kecamatan Sumber menambahkan, meski dirinya sempat melakukan penyemprotan obat pencegah rumput di awal-awal tanam padi, namun tetap saja, gulma tumbuh ketika tanamannya memasuki umur 35 hari.

Diminta penjelasannya terkait gulma yang merepotkan para petani, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang Mulyono menerangkan, gulma atau rumput pengganggu tanaman wajar saja jika jumlahnya sedikit.

Namun, jika jumlahnya banyak sehingga menjadi cukup sulit dikendalikan, menurut Mulyono, biasanya karena petani buru-buru menanami lahan olahannya di awal musim penghujan.

Mestinya, Mulyono menguraikan, di awal musim penghujan, petani fokus terlebih dahulu pada pengolahan lahan. Sebab, pada awal pengolahan lahan, biasanya, biji-biji rumput yang tidak tumbuh di musim kemarau akan segera menyeruak.

Karenanya, apabila petani buru-buru menanaminya, maka saat bibit padi, terutama yang dengan sistem gogo rancah ditanam, gulma akan menjejal di sela tanaman dan yang demikian memang merepotkan.

Selain ketergesaan menanam padi setelah pengolahan tanah, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Mulyono menambahkan, membeludaknya gulma juga karena picuan sisa biji dari rumput yang dikonsumsi ternak sapi.

Pupuk kandang yang tidak disentuh penanganan misalnya dengan menjadikannya bokasi melalui penambahan mikroorganisme efektif, dedak halus, dan tetes tebu, menurut Mulyono, memungkinkan membawa sisa biji rumput tadi ketika ditebar.

Dari pantauan reporter MataAir Radio, karena membeludaknya gulma ini, petani harus mengerahkan beberapa orang untuk menyabut secara manual rumput. Ongkos yang dikeluarkan untuk membayar satu orang tenaga penyabut gulma mencapai Rp25.000 per hari. (Pujianto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>