Wednesday, July 30, 2014
Breaking News

Lasem Belum Tergoda Batik Mangrove

Ilustrasi

Ilustrasi

LASEM, MataAirRadio.net - Sekitar 70 orang perajin batik tulis lasem masih akan mempertahankan motif khas seperti kendiri ukel, latohan abangan, parang sekar es teh, lasem sekar jagat, lasem pasiran, dan lasem lerek lung-lungan. Mereka mengaku belum tergoda batik mangrove yang sedang mulai tren di pasaran.

Ketua Klaster Batik Tulis Lasem Rifai mengatakan, mereka yang mengembangkan batik mangrove bisa jadi mulai kehabisan karakter khas motif. Sementara untuk batik tulis lasem, motif-motif khas tersebut, masih diminati pasar. Apalagi pembeli dari luar negeri seperti dari Negeri Jiran– Malaysia, mulai datang langsung berbelanja batik ke Lasem.

Menurut Rifai, batik mangrove memiliki dua kriteria. Motif dan pewarnaannya mengadopsi mangrove atau pewarnaannya saja yang menggunakan bahan tanaman bakau ini. Dari keduanya, perajin cenderung hendak mempertimbangkan pewarnaan berbahan mangrove. Namun Rifai menyebut, perajin butuh dilatih karena tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan.

Mangrove atau tanaman bakau tersedia cukup melimpah di Kabupaten Rembang. Dengan gampang, tanaman sabuk pantai ini bisa dijumpai di wilayah Tasikharjo Kecamatan Kaliori dan sepanjang Pasarbanggi Kecamatan Rembang. Di Rembang, belum ada inovasi kreatif dari penggunaan mangrove, selain untuk penghijauan dan camilan terbatas.

Rifai menambahkan, sebenarnya perajin bisa saja mengadopsi secara penuh mangrove dalam kerajinan batik, mulai motif hingga pewarnaannya. Namun perajin khawatir, jika diadopsi penuh, maka batik tulis lasem rentan menjadi batik kontemporer dan tidak lagi khas.

Untuk sementara ini, mayoritas perajin memilih terus mengembangkan motif khas lasem dengan warna sintetis, karena batik warna alam belum begitu bergairah. Meski demikian, di setiap pameran, seperti di Inacraft akhir bulan ini, pihaknya tetap akan membawa beberapa potong batik tulis lasem dengan warna alam sebagai sampel.

Mangrove jenis Rhizophora melahirkan warna alami coklat yang khas. Sementara menurut Rifai, perajin yang mengadopsi warna alam, menggunakan batang mangga atau serabut kelapa atau daun jati untuk menghasilkan cokelat.

Sementara warna khas batik lasem yakni merah darah ayam dihasilkan dari pewarna alam yaitu warna akar pohon mengkudu. Sementara untuk warga indigo atau biru, perajin menggunakan daun tom yang juga banyak dijumpai di pesisir Pantai Lasem. (Pujianto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>