Wednesday, July 30, 2014
Breaking News

Harga Garam Petani Rembang Mulai Terdongkrak

Petani garam di Kabupaten Rembang, (Foto:Puji)

Petani garam di Kabupaten Rembang, (Foto:Puji)

KALIORI, MataAirRadio.net - Harga garam petani Rembang mulai terdongkrak naik. Gangguan cuaca membuat harga “emas” putih petani itu naik Rp200 per kilogram, dari Rp300 menjadi Rp500 sejak dua minggu terakhir.

Rasmani, seorang petani garam di Desa Purworejo Kecamatan Kaliori, Rabu (24/7) pagi menyebutkan, harga garam saat ini sudah lumayan bagus. Namun mayoritas petani hanya bisa menikmati harga tersebut dari garam kualitas kedua.

Sementara untuk harga garam kualitas super yang mencapai Rp650-Rp700 per kilogram, petani nyaris tidak bisa menikmati lantaran jarang yang mau membuat karena alasan ribet.

Saat ini, timbunan garam petani mulai menipis. Rasmani mengungkapkan dari sekitar 2.000 ton hasil panenan, garam di gudangnya kini tinggal sekitar 300 ton. Di sisi lain, petani kini masih kesulitan memproduksi garam karena kondisi lahan yang masih lembek. Butuh waktu sekitar 15 hari dalam cuaca relatif terik, untuk bisa membuat meja garam dan memulai produksi.

Agus Santoso, petani garam lainnya di Desa Mojowarno kecamatan yang sama juga menyebutkan hal senada. Petani memang mulai sedikit mendapat kenaikan harga, namun untuk kembali membuat garam, mayoritas penggarap mengalami kesulitan.

Menurutnya, sebagian besar lahan petani masih sangat basah dan untuk mengeringkannya juga susah. Akibatnya banyak lahan yang masih dibiarkan menganggur, meski ada beberapa petani yang memanfaatkannya untuk budidaya ikan bandeng atau udang.

Ia pun membenarkan bahwa timbunan garam petani di gudang sudah mulai menipis. Agus menyebutkan dari sekitar 300 ton garam hasil panen tahun lalu, kini hanya tinggal seratus ton. Meski demikian, petani masih akan bisa mendapatkan harga yang lebih baik pada jelang Lebaran jika gangguan cuaca masih berlangsung.

Berdasarkan pantauan di lapangan, memang sudah ada satu atau dua petani yang mulai melakukan peruntungan dengan membuat garam. Namun hasilnya tak maksimal. Pasalnya, begitu air baku mulai dihamparkan untuk kristalisasi, hujan deras mengguyur dan butiran garam pun musnah.

Sebagian besar petani berasumsi, selagi cuaca relatif terik bertahan, maka selepas Lebaran nanti, mereka sudah akan bisa memulai produksi garam. Tahun lalu, Kabupaten Rembang mencatat produksi garam hingga 200.000 ton. (Pujianto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>