Thursday, April 24, 2014
Breaking News

Guru Penemu Handtrymatika dan Konel Atom, Pernah Menjadi Kuli Panggul

Tri Budiyono, guru penemu handtrymatika dan konel atom.

Tri Budiyono, guru penemu handtrymatika dan konel atom. (Foto : Ilyas)

PAMOTAN, MataAirRadio.net - Nama Tri Budiyono belakangan mencuat sekaligus mendadak tenar setidaknya di Kabupaten Rembang. Guru SMP Negeri 1 Pamotan itu menghiasi pemberitaan di media lantaran penemuan metode berhitung handtrymatika dan alat peraga konel atom.

Namun siapa sangka, guru pengampu mata pelajaran Fisika ini dulunya ternyata pernah menjadi seorang kuli panggul di desa kelahirannya, Srebeggede Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten.

Kepada reporter MataAir Radio, Jumat (15/3) pagi, pria berusia 46 tahun ini menuturkan, menjadi kuli panggul terpaksa dilakukannya untuk mendapatkan biaya dan uang saku sekolah.

Pilihan orang tuanya yang merantau ke Jakarta, membuat Tri Budiyono kecil harus memenuhi beberapa kebutuhan dengan usaha sendiri. Beruntung masih ada kakak kandungnya yang menemani. Saat itu sekitar tahun 1983 dan Budiyono masih duduk di bangku sekolah dasar.

Ia juga menuturkan, secara akademik, perjalanan pendidikannya hingga sampai di tataran perguruan tinggi terbilang lancar. Namun, urusan biaya untuk bisa menuntaskan studi, Budiyono berada dalam keterbatasan.

Ketika memasuki pendidikan tingkat SMP misalnya. Setiap pulang sekolah, ia harus rela menjadi buruh kebersihan pada sebuah peternakan ayam di desanya. Saat menapaki perguruan tinggi pada sekitar tahun 1990 pun, Tri Budiyono terpaksa nyambi sebagai tukang cuci piring pada sebuah rumah makan, untuk menambah ongkos kuliah di Fakultas MIPA Jurusan Fisika Universitas Negeri Jakarta.

Dari liku-liku kehidupannya ini, Tri Budiyono mengaku tidak pernah terbayang apalagi menyangka, suatu saat akan menjadi guru berstatus negeri apalagi menjadi penemu metode berhitung handtrymatika dan alat peraga konel atom. Baginya, pencapaiannya selama ini adalah sesuatu yang sama sekali di luar perkiraannya.

Budiyono menuturkan, dalam proses hidupnya, kedua orang tuanya merupakan sosok yang membuatnya selalu mampu bertahan di tengah keterbatasan. Ia selalu mengingat, ketika kedua orang tuanya memberikan dorongan bahwa pendidikan harus selalu dipelihara dan diraih setinggi mungkin.

Namun, khusus untuk handtrymatika dan konel atom, Budiyono menyebut, para siswanya lah yang menjadi sumber inspirasi. Menurutnya, respon siswanya yang kurang baik serta sulit tanggap dalam mempelajari materi eksakta, membuatnya berpikir mencari metode yang membuat siswa merasa jauh lebih mudah. Saat itulah, handtrymatika dan konel atom ia dalami betul, hingga benar-benar menjadi sebuah metode berhitung serta alat peraga belajar atom.

Pria berkaca mata ini secara terus terang mengakui, kondisi keuangan keluarganya banyak terbantu dari pengembangan handtrymatika. Meskipun sejak masuk Kabupaten Rembang pada 1995 statusnya sudah guru negeri, namun rumah, mobil, serta berbagai perlengkapan hidupnya kini sebagian besar merupakan hasil dari kerja kerasnya mengembangkan handtrymatika. (Ilyas Almustofa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>