Saturday, July 26, 2014
Breaking News

Banjir Paksa Petani Bawang Merah Kuangsan Panen Dini

Petani bawang terpaksa memanen lebih awal karena bawang merah terancam busuk dan tak laku dijual. (Foto:Puji)

Petani bawang terpaksa memanen lebih awal karena bawang merah terancam busuk dan tak laku dijual. (Foto:Puji)

KALIORI, MataAirRadio.net - Petani bawang merah di Desa Kuangsan Kecamatan Kaliori terpaksa panen dini atau lebih awal, setelah lahan tanaman mereka direndam banjir, Rabu (22/1) pagi. Menurut petani, jika tidak segera dipanen, bawang merah terancam busuk dan tak laku dijual.

Mohammad Ikhsan, petani bawang merah di desa itu mengaku terancam menderita kerugian hingga Rp7,5 juta akibat banjir yang merendam seperempat hektare areal tanamannya. Dia terpaksa panen lebih awal untuk menekan tingkat kerugian. Ada empat tenaga pemanen yang dia kerahkan.

Menurutnya, panen semestinya baru akan dilakukan pada rentang sepuluh hingga 15 hari lagi. Dia juga menyebutkan, harga bawang merah hasil panen dini diyakininya murah. Sebab, harga ketika panen normal saja, hanya mencapai Rp6.000-Rp7.000 per kilogram.

Ikhsan yang juga Penjabat Sementara Kepala Desa Kuangsan ini mengatakan, arus banjir yang menerjang desanya sejak Selasa (21/1) sore hingga Rabu (22/1) dini hari, cukup deras.

Di sekitar jalan desa, ketinggian air mencapai 40 centimeter, sedangkan di bagian selatan desa mencapai sedada orang dewasa atau lebih dari satu meter. Dia juga menyebutkan, dari belasan rumah yang sempat tergenang, sampai Rabu (22/1) pagi, tinggal empat rumah saja.

Selain lantaran derasnya air kiriman dari Embung Grawan, banjir yang menerjang kuangsan juga akibat longsornya tanggul sungai berumpun bambu. Pihak Badan Penanggulangan Bencana, aparat kecamatan, tentara, dan kepolisian, sempat bersiaga di desa itu hingga lepas tengah malam.

Sementara itu, banjir juga dilaporkan sempat menggenangi setidaknya 50 rumah di Desa Sambiyan Kecamatan Kaliori. Luapan air dari sawah dan permukiman, menggenangi rumah-rumah warga hingga Rabu (22/1) dini hari, sebelum kemudian surut nyaris total pada pagi harinya.

Kepala Desa Sambiyan Sunarto mengatakan, banjir yang menerjang desanya tergolong cepat surut. Oleh karena itu, saat banjir menggenang, warga memilih bertahan dan tidak bersiap mengungsi. (Pujianto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>